Bahasa? Sosiolinguistik?

Bahasa adalah sistem lambang bunyi bahasa yang arbitrer yang digunakan masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri (Harimurti Kridalaksana, 1993:21). Bahasa ini dapat dikaji dari berbagai sudut pandang dan perhatian khusus pada unsur bahasa yang berbeda-beda seperti struktur intern bahasa dikaji dalam linguistik, dengan kajian mendalam pada unsur fonem atau bunyi  bahasa disebut fonologi, morfologi mempelajari struktur intern bentuk-bentuk kata, sintaksis mengkaji hubungan antarbentuk kata dalam tataran kalimat, dan lainnya.
Namun kajian bahasa secara intrinsik ini tidak mampu mengungkap fenomena bahasa secara seutuhnya. Seperti misalnya  dimensi kemasyarakatan bahasa yang tidak “tampak” dalam struktur bahasa. Pengkajian bahasa dengan mempertimbangkan dimensi kemasyarakatan ini yang disebut sosiolingistik. Berikut ini akan diuraikan definisi sosiolinguistik dari berbagai tokoh, kedudukan sosiolinguistik di antara cabang linguistik yang lain, metode sosiolinguistik, dan masalah-masalah sosiolinguistik.

A. Pengertian Sosiolinguistik
Berikut ini dikemukakan beberapa definisi sosiolinguistik.
1.      J.A. Fishman (dalam Suwito, 1985: 5) mendefinisikan sosiolinguistik dengan sebutan sosiologi bahasa. Kajian bahasa sebagai gejala sosial yang mempengaruhi pemakaian bahasa dengan faktor sosial, seperti status sosial, tingkat pendidikan, umur, jenis kelamin, tingkat ekonomi dan faktor situasional, yaitu siapa berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, di mana, dan mengenai masalah  apa atau dirumuskan secara singkat dengan  who speak, what language, to whom, and when. Secara eksplisit Fishman mendefinisikan sosiolinguistik sebagai studi tentang katakteristik variasi bahasa, karakteristik fungsi bahasa, dan karakteristik pemakaian bahasa yang terjalin dalam interaksi, sehingga menyebabkan perubahan-perubahan antara ketiganya di dalam masyarakat tuturnya.
2.      Rene Appel (dalam Suwito, 1985:5) mengungkapkan bahawa sosiolinguistik menempatkan kedudukan bahasa dalam  hubungannya dengan pemakaiannya dalam masyarakat, sehingga bahasa dipandang sebagai sistem sosial dan sistem komunikasi, serta merupakan bagian dari masyarakat dan kebudayaan tertentu. Pemakaian  bahasa (language use) merupakan bentuk interaksi sosial yang terjadi dalam situasi konkret. Rumusan sosiolinguistik menurut Appel adalah studi tentang bahasa  dan pemakaian bahasa dalam hubungannya dengan masyarakat dan kebudayaan.
3.      Dell Hymes (dalam Suwito, 1985: 7) yang menitikberatkan kajian sosiolinguistik pada segi penggunaan bahasa dengan  rumusan kemungkinan pemakaian data dan analisis linguistik  dalam disiplin lain yang berhubungan dengan kehidupan sosial, dan  sebaliknya, pemakaian data dan analisis sosial dalam linguistik.
4.      Abdul Chaer dan Agustina (1995:3) merumuskan sosiolinguistik sebagai gabungan dari kata sosiologi dan linguistik. Sosiologi adalah kajian yang objektif dan ilmiah mengenai manusia dalam masyarakat dan mengenai lembaga-lembaga, serta proses sosial yang ada di dalam masyarakat. Linguistik adalah ilmu bahasa atau kajian tentang bahasa, sehingga sosiolinguistik merupakan bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa di dalam masyarakat.
5.      I Dewa Putu Wijana dan Mohammad Rohmadi (1996:7) merangkum semua pendapat tentang sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang memandang atau menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa di dalam masyarakat, karena dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lagi sebagai individu melainkan sebagai masyarakat sosial. Oleh karena itu, segala sesuatu yang dilakukan manusia dalam bertutur akan selalu dipengaruhi oleh situasi dan kondisi di sekitarnya.


B. Kedudukan Sosiolinguistik
Seperti telah disinggung di atas linguistik adalah cabang ilmu yang mempelajari struktur intern bahasa, atau disebut  linguistik mikro, dengan cabang-cabangnya, yaitu fonologi, morfologi, sintansis, dan semantik. Kajian struktur bahasa yang melibatkan untuk di luar bahasa (struktur ekstern bahasa) disebut  linguistik makro. Bidang kajian linguistik makro dibagi ke dalam dua bidang, yaitu interdispliner, yaitu kajian ilmu bahasa dengan ilmu lain atau studi antarlimu, dan  terapan, yaitu kajian atau hasil kajian bahasa yang digunakan untuk memecahkan masalah-masalah praktis. Yang tergolong dalam bidang interdisipliner antara lain fonetik (linguistik dan fisika), filsafat bahasa (filsafat dan bahasa), sosiolinguistik (sosiologi dan linguistik), psikolinguistik (psikologi dan linguistik), dan etnolinguistik (etnologi dan linguistik).  Yang termasuk dalam bidang terapan antara lain pengajaran bahasa (kajian linguistik digunakan untuk memecahkan masalah belajar atau penguasaan bahasa), penerjemahan (kajian linguistik digunakan untuk memecahkan masalah alih bahasa), dan leksikografi (hasil kajian bahasa digunakan untuk menyusun kamus).
Dengan demikian jelas bahwa sosiolinguistik merupakan kajian linguistik makro dan bersifat interdisipliner, merupakan studi antarilmu sosiologi dan linguistik.

C. Metodologi
Sebagai bidang interdipliner tentunya metode sosiolgi dan metode linguistik dapat diterapkan dalam mengkaji bahasa dalam masyarakat. Metode linguistik dalam sosiolinguistik digunakan untuk memerikan atau mendeskripsikan bentuk-bentuk bahasa beserta unsur-unsurnya. Bentuk dan unsur bahasa diperikan menggunakan metode analisis  linguistik dan digambarkan dengan tanda-tanda fonetik atau fonemik.
Metode sosiologi  dengan pengamatan atau observasi  dan pengumpulan data melalui wawancara atau kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data di masyarakat. Analisis untuk mendapatkan pola-pola umum dalam tindak berbahasa dapat menggunakan metode statistik dari sosiologi. Metode  sampling dan teori probabilitas, serta metode survei yang biasanya digunakan dalam penelitian kemasyarakatan  juga dapat diterapkan dalam sosiolinguistik. 

D. Masalah-Masalah Sosiolinguistik
Masalah utama yang dibahas dan dikaji dalam sosiolinguistik adalah bahasa dalam konteks sosial dan kebudayaan, hubungan faktor-faktor kebahasaan, ciri-ciri, dan ragam bahasa dengan situasi serta faktor-faktor sosial dan budaya, dan fungsi-fungsi sosial dan penggunaan bahasa dalam masyarakat. P.W.J. Nababan (1991:4) merumuskan masalah atau topik yang dikaji dalam sosiolinguistik adalah:
1.  bahasa, dialek, idiolek, dan ragam bahasa,
2.  repertoire bahasa,
3.  masyarakat bahasa,
4.  kedwibahasan atau kegandaan bahasa,
5.  fungsi masyarakat bahasa dan profil sosiolinguistik,
6.  penggunaan bahasa atau etnografi berbahasa,
7.  sikap bahasa,
8.  perencanaan bahasa,
9.  interkasi sosiolinguistik, dan
10. bahasa dan kebudayaan.


Artikel Terkait:


0 komentar:

Poskan Komentar

Tambahkan Komentar Anda

Subscribe Via Email

catatan "Kang Hasan"

↑ Grab this Headline Animator

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

About Me

Foto Saya
Hasanudin
Ketidaksempurnaan adalah hakiki insan Tuhan. Menjadikan lebih sempurna adalah kewajiban Insan terhadap Tuhan, dengan iman dan takwa kepada-Nya. Sebagai seorang insan kita wajib menghargai ketidaksempurnaan sesama.
Lihat profil lengkapku

Followers

Sponsored by

Ekstra Link

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net Add to Google Reader or Homepage Text Back Links Exchanges Blog Tutorial Wordpress Blogger Blogspot Cara Membuat Blog Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free! Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net
Back To Top