Sebelum berpidato, selayaknya mempersiapkan bahan-bahan pembicaraan yang akan disampaikan. Persiapan yang diperlukan bergantung pada metode yang digunakan. Metode yang dilakukan seperti disebutkan oleh Arsjad dan Mukti US. (1998:65) ada empat. Metode-metode tersebut yaitu metode impromtu, menghafal, naskah, dan ekstemporer. Agar lebih jelas, berikut ini dipaparkan masing-masing karakteristik metode tersebut.
a)      Metode impromtu
Metode impromtu digunakan pembicara yang tidak atau tanpa persiapan. Dengan metode ini, pembicara harus mempunyai kemampuan penyampaian lisan karena penggunaan metode ini hanya terbatas pada kesempatan yang diberikan pembicara secara tidak terduga (Arsjad dan Mukti US., 1998:65). Pembicara bebas menyampaikan gaya, lelucon-lelucon atau insiden-insiden dari pengalamannya untuk berbicara (Tarigan, 1981:24).
b)      Metode menghafal
Metode menghafal adalah metode yang dilakukan pembicara dengan menghafal kata demi kata (Arsjad dan Mukti US., 1998:65). Pembicara mempersiapkan naskah sebelumnya kemudian dihafalkan secara utuh (Keraf, 1970:316). Tarigan (1981:25) mengatakan bahwa metode menghafal disebut juga metode dari ingatan. Sehingga penyampaian pembicaraan berasal dari ingatan yang telah dihafalkan, dan menuntut pembicara menguasai materi selengkap mungkin yang ada dalam ingatan. Metode ini cepat mengeluarkan kata-kata dari ingatannya tanpa memperhatikan dan menghayati maknanya.
c)      Metode naskah
Metode naskah adalah berbicara dengan menggunakan naskah. Metode ini digunakan pada saat-saat penting seperti siaran radio, televisi, pidato-pidato kenegaraan (Tarigan, 1981:25). Dalam metode ini, pembicara menyusun hal-hal yang akan disampaikan dalam bentuk tulisan. Dapat pula naskah disiapkan oleh orang lain, sehingga tinggal membacakan.
d)     Metode ekstemporer
Metode ekstemporer adalah metode berbicara tanpa persiapan naskah. Keraf (1970:317) mengatakan bahwa metode sangat dianjurkan dalam berbicara, karena pembicara tidak bergantung kepada naskah yang harus di hafalkan dan pembicara bebas memilih kata-kata sendiri. Dengan demikian, pembicara dapat dengan mudah memilih kata-kata dan nada berbicara tergantung pada reaksi penyimak.


Daftar Pustaka
Arsjad, Maidar G. dan Mukti U.S. 1988. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.


Keraf, Gorys. 1970. Tata Bahasa Indonesia. Ende-Flores. Nusa Indah.
Tarigan, HG. (ed). 1981. Berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa. Bandung: Angkasa.


Artikel Terkait:


0 komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar Anda

Subscribe Via Email

catatan "Kang Hasan"

↑ Grab this Headline Animator

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

About Me

Foto Saya
Hasanudin
Ketidaksempurnaan adalah hakiki insan Tuhan. Menjadikan lebih sempurna adalah kewajiban Insan terhadap Tuhan, dengan iman dan takwa kepada-Nya. Sebagai seorang insan kita wajib menghargai ketidaksempurnaan sesama.
Lihat profil lengkapku

Followers

Sponsored by

Ekstra Link

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net Add to Google Reader or Homepage Text Back Links Exchanges Blog Tutorial Wordpress Blogger Blogspot Cara Membuat Blog Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free! Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net
Back To Top