Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
A.    DASAR ANALISIS FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN
Analisis terhadap fingsi media pemepbelajaran ini lebih di fokuskan pada dua hal, yakni analisis fungsi yang di dasarkan pada medianya dan di dasarkanpada penggunaannya. Pertama,analisis fungsi yang di dasarkan pada media terdapat tiga fungsi media pembelajaran, yakni (1) media pembelajaran berfungsi sebagai sumber belajar. (2) fungsi semantic dan (3) fungsi manipulatif. Kedua, analisis fungsi yang di dasarkan pada penggunaannya  (anak didik dapat dibagi menjadi dua fungsi, yaitu (4) fungsi psikologis dan (5) fungsi sosio cultural. Dengan demikian terdapat lima fungsi media pembelajaran  yang akan menjadi focus pada makalah ini.
Pada dasarnya fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai sumber belajar. Fungsi fungsi lain adala pertimbangan pada kajian ciri ciri umum yang di milikinya, bahasa yang di pakai menyampaikan pesan dan dampak atau efek yang di timbulkannya.
Ciri ciri (karakteristik) umum media yang di maksud adalah kemampuan merekam, menyimpan, melestarikan, merekontruksi, dan mentransportasi suatu peristiwa atau objek. Kemudian yang di maksud bahasa yang di gunakan menyampaikan pesan adalah bahasa variabel dan nonvariabel. Terakhir adalah tentang efek yang di timbulkannya. Bentuk kongrit dari efek ini adalah terjadinya perubahan tingkah laku dan sikap siswa sebagai akibat interaksi antara dia dengan pesan, baik perubahan itu secara individu maupun secara kelompok. Dan ini merupakan tujuan utama media, yakni mengefektifkan peroses komunikasi pembelajaran sehingga tercapai tujuan yang di inginkan.

B.     FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN
1.      Fungsi Media Pembelajaran Sebagai Sumber Belajar
Secara teknis, media pembelajaran sebagai sumber belajar. Dalam kalimat “sumberbelajar” ini tersirat makana keaktifan, yakni sebagai penyalur, penyampai, penghubung dan lain lain. Fingsi media pembelajaran sebagi sumber belajar adalah fungsi utamannya di samping adannya funfsi funfsi lain yang akan kita bahas di dalam makalah ini.
Seperti telah di singgung di atas, bahwa media pembelajaran adalah bahasanya baru. Maka untuk beberapa hal media pembelajaran dapat menggantikan fungsi guru terutma sebagai sumber belajar.
Mudhoffir dalam bukunya yang berjudul prinsip perinsip pengelolaan sumber belajar (1992 : 1-2) menyebutkan bahwa sumber belajar pada hakekatnya  merupakan komponen sistem instruksional yang meliputi pesan, orang, bahan, alat, tehknik dan lingkungan .  yang mana hal itu dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Dengan demikian sumber belajar dapat di pahami sebagai segala macam sumber yang ada di luar dirui seseorang dan mungkin memudahkan peroses belajar mengajar.
Pada usia sekolah terutama setelah menyelesaikan sekolah dasarnya, anak didik telah mencapai tingkat kecerdasan sosial yang jelas sebagai hasil pengalamannnya dengan keluargannya. Kawan sekolahnnya, kelompok kelompojk keagamaan dan masyarakat. Dan media sosialnnya.

2.      Fungsi Semantik
Yakni kemempuan media dalam menambah perbendaharaan kata (sombol variabel) yang makna atau maksudnya benar benar di pahami oleh anak didik.
Bahasa meliputi lambang (soimbol) dari isi. Yaknoi pikiran atau perasaan yamg keduannya telah menjadi totalitas pesan.yang tidak dapat di pisahkan. Unsur unsur dasar dari bahasa itu adalah ”kata”. Simbol adalah suatu yang di gunakan untuk atau uang di pandang sebagai wakil suatu lainnya. Jadi, gambar harimau di pakai sebagai simbo keberanian. Kata hanya akan bermakna bila telaj di rujukan kepada sejumlah relefan. Manusia lah yang memberi mkana kepada kata pada konteks pendidikan dan pembelajaran. Gurulah yang menjadi makna pada setiap kata yang di sampaikannya.
Bila simbol simbil kata variabel tersebut hanya merujuk pada benda, maka masalah komusnikasi akan menjadi masalah yang sederhana. Artinga guru tidak terlalu sulit untuk menjelaskan.



3.      Fungsi Manipulatif
Fungsi manipulatif ini di dasarkan pada ciri ciri (karakteristik) umum yang sebagai mana tersebut di atas. Berdasarkan karakteristik umum ini, media memiliki dua kemampuan, yakni mengatasi batas betas ruang dan waktu. Dan mengatasi keternatasan inderawi.
Pertama, kemempuan media pembelajaran yang mengatasi ruang dan waktu, yaitu :
a.       Kemampuan media dalam menghadirkan objek atau peristiwa yang sulit di hadirkan dalam bentuk aslinya.
b.      Kemampuan media menjadikan objek atau peristiwa yang menyita waktu panjang menjadi singkat.
c.       Kemempuan media dalam menghadirkan kembali objek atau peristiwa yang telah terjadi.
Kedua, kemempuan media pembelajaran dalam mengatasi keterbatasan inderawi manusia, yaitu :
a.       Membentu siswa memahami objek yang sulit di amati karena terlalu kecil, seperti molekul, atom, dan sel.
b.      Membentu siswa dalam memahami objek yang bergerak terlalu lambat atau terlalu cepat. Seperti proses metemorfosis.
c.       Membentu siswa dalam memahamiobjek yang membutuhkan kejelasan suara, seperti cara membeca al qur’an sesuai denan kaidah tajuwid.
d.      Membantu siswa memahami objek yang terlalu komleks, misalnya menggunakan diagram, peta, dan gerafik.
4.      Fungsi Psikologis
a.       Fungsi Atensi
Media pembelajaran dapat meningkatkan perhatian (attention) siswa terhadap materi ajar. Setiap orang memiliki sel saraf penghambat, yakni sel khusus yang berfungsi membuang sejumlah sensasi yang datang. Dengan adanya sel penghambat ini para siswa dapat memfokuskan perhatiannya pada rangsangan yang di anggapnya menarik dan membuan rangsangan yang lainnaya.
Dengan demikian, media belajar yang tepat guna adalahmedia belajar yang menarik dan memfokuskan siswa. Dalam psikologi komunikasi, fenomena ini terjadi ketika kita memperhatikan rangsangan tertentu sambil membuang rangsangan yang lainnya di sebut perhatia selektif (selctiv attention).
b.      Fungsi afektif
Fungsu afektif yakni menggugah perasaan, emosi, dan tingkatan penerimaanatau penolakan siswa terhadap sesuatu. Setiap orang memiliki gejala batin jiwa yang berisikan kualitas karakter dan kesadaran.ia berwujud pencurahan perasaan minat, dan sikap penghargaan, nilai nilai, atau perangkat emosi dan kecenderungan kecenderuangan batin.
Media pembelajaran yang tepat guna dapat meningkatkan sambutan dan penerimaan siswa terhadap setimulus tertentu. Sambutan dan penerimaan tersebut berupa kemauan.dengan adannya media pembelajaran, terlihat pada diri siswa kesediaan untuk menerima beban pelajaran, dan untuk itu perhatiannya akan tertuju pada pembelajaran yang di ikutinnya. Hal lain dari penerimaan itu adalah munculnya tanggapan yakni partisipasi siswa dalam keselurukan peroses pemeblajaran siswa secara suka rela, ini merupakan relaksasi siswa terhadap rangsangan yang di terimannya. Pabila siswa tersebut di lakukan dengan terus menerus, maka tidak menutup kemungkinan jiwannya melakukan penilaian dan penghargaan terhadap nilai nilai atau norma norma  yang di perolehnnya. Pada tingkat tertentu nilai nilai atau norma norama itu akan di terimannya dan di yakininnya. Kemudian terjadilah pengorganisasian  nilai nilai norma norma, kepercayaan, ide, dan sikap yang menjadi sistem batin yang konsisten yag di sebut dengan karakteristik.

c.       Fingsi kognitif
Siswa yang belajar melalui media pembelajaran akan memperoleh dan menggunakan bentuk bentu reperensiyang mewakili objek objek yang di hadapi, baik objek berupa orang, benda, atau kejadian/peristiawa. Objek objek itu di reperensikan atau di hadirkan dalam diri sesorang melalui tanggapan, gagasan atau lambang, yang dalam psikologi  semuannya merupakan sesuatu yang bersifat mental.
Belajar melalui peristiwa seprti darmawisata, ia mempu menceritakan pengalamannya selama melakukan kegiatan itu kepada temannya. Tempet tempat yang ia kunjungi selama berdarma wisata tidak di bawa pulang, dirinya sendiri juga tidak hadir di tempat darmawisata itu saat ia bercerita pada temannya tersebut. Tetapi semua pengalaman tercatat di dalam benaknya. Dalam bentuk gagasan gagasan dan tanggapan tanggapan. Gagasan dan tanggapan itu di tuangkan dalam kata kata yang di sampaikan kepada temannya yang mendengarkan ceritannya. Dengan demikian pengalaman selama berkunjung ke tempat darma wisata di wakilkan atau di persentasikan dalam betuk gagasan atau tanggapan yang kedua dalam bentuk mental. Jelaslah kirannya, media pembelajaran itu telah andil delam mengembangkan kognitif siswa. Semakin banyak ia di hadapkan dengan obkek objek akan semakin banyak pula pikiran dan gagasan yang di milikinya, atau semakin kaya dan luas pikiran kognitifnya.

d.      Fungsi imajinatif
Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengembangkan imajinatif siswa. Imajinatif dalam kamus lengkap psikologi adalah peroses menciptakan objek atau peristiwatanpa pemenfaatan data sensoris. Imajinatif ini mencakup penimbuln atau kereasi objek objek baru sebagai rencana di masa mendatang, atau dapat pula mengambil bentuk fantasi (khayal) yang di dominasi kuat sekali oleh pikiran pikiran autisik.

e.       Fungsi motivasi
Motivasi merupakan seni yang mendorong  siswa untuk terdorong melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Dengan demikian mitivasi merupakan usah dari pihak luar dalam hal ini adalah guru untuk mendorong, mengaktifkan, menggerakkan  siswannya untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
Guru dapat memotivasi siswanya dengan cara membangkitkan minat belajarnnya dan dengan cara memberikan dan menimbulkan harapan. Donald O. Hebb (aminnudin Rasyid 2003 : 93) menyebutkan cara pertama dalam arousal dan kedua dalam expectancy. Yang pertama, aurosal adalah suatu usaha guru untuk membengkitkan intrinsic motive siswannya.sedangkan dengan expectancy adalah suatu keyakinan yang secara seketika timbul untuk terpenuhi suatu harapan yang mendorong seseorag untuk melakukan kegiatan. Harapan akan tercapainnya hasrat dan tujuan dapat menjadi motivasi yang di timbukan guru kedalam diri siswa. Salah satu pemberian harapan itu yakni dengan cara memudahkan siswa, bahkan yang di anggap lemah sekalipun dalam memahami dan menerima isi pelajaran yaknu melalui pemanfaatan media pembelajaran yang tepat guna.

5.      Fungsi Sosial Kultural
Fungsi media pembelajaran di lihat dari social cultural, yakni mengatasi hambatan sosio cultural antar peserta komunikasi pembelajaran. Bukan hal yang mudah untuk memahami para siswa yang memiliki jumlah yang cukup banyak (paling tidak dalam satu kelas berjumlah 40 orang). Masing masing memiliki karakteristik yang berbeda beda apalagi di hubungkan dengan adapt, keyakinan, lingkungan, pengalaman, dan lain lain. Sedangkan dari pihalk lain, kurikulum dan materi ajar ditentukan dan di lakukan secara sama untuk setiap siswa. Tentunya guru akan menghadapi kesulitan terlebih guru harus mengatasinya sendirian. Apalagi bila latar belakang dirinnya (guru) baik adat, budaya, lingkungan, dan pengalaman yang berbeda dari para siswannya. Hal ini dapat di atasi dengan media pembelajaran, karena media pembelajaran memiliki kemampuan dalam memberikan rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman, dan menimbulkan pesepsi yang sama.

KESIMPULAN
Secara teknis, media pembelajaran sebagai sumber belajar, yakni sebagai penyalur, penyampai, penghubung dan lain lain. Fingsi media pembelajaran sebagi sumber belajar adalah fungsi utamannya. Pada dasarnya fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai sumber belajar. Fungsi fungsi lain adalah pertimbangan pada kajian ciri ciri umum yang di milikinya, bahasa yang di pakai menyampaikan pesan dan dampak atau efek yang di timbulkannya.



RUJUKAN
Munadi, Whyudi. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta. Gama Persada (GP) Press


Alat Sukses Bernama Belajar
oleh
ROY SEMBEL dan AGUNG BARUNO

Sukses selalu terdiri dari impian yang kuat, perjuangan yang keras dan sistem yang handal dengan disertai doa yang benar kepada Tuhan YME, penentu segala keberhasilan. Sistem yang handal seyogyanya adalah sistem yang dapat dikerjakan dan dilakukan oleh semua orang tanpa pandang bulu: tanpa batasan usia, tanpa batasan latar belakang pendidikan, keluarga, kekuatan finansial. Sistem yang dapat dikerjakan oleh semua orang berarti dapat juga dikerjakan oleh diri kita sendiri. 
Orang sukses selalu mengikuti sistem yang sudah teruji keberhasilannya dan yang sederhana. Sistem di sini berupa alat-alat yang akan membantu kita mengikuti jejak-jejak orang sukses dan tingkat kesuksesan yang kita inginkan. Alat dapat membantu kita semua mempermudah dalam mencapai tingkat kesuksesan yang kita harapkan. Alat terhebat yang pernah ditemukan oleh manusia adalah pendidikan. Manusia adalah makhluk yang menggunakan alat. Manusia selalu menggunakan alat untuk membantu dan mempermudah dalam memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ahli sejarah menemukan alat-alat primitif yang digunakan oleh manusia purba untuk berburu. Manusia purba telah menggunakan tulang-tulang, batu yang mereka pergunakan untuk berburu. Dalam tingkatan yang lebih maju menusia purba telah menggunakan bahan olahan yaitu perunggu, dalam rangka mendapatkan binatang buruan yang lebih baik. Lalu diketemukan juga bahwa mereka telah menggunakan api untuk memasak binatang buruannya supaya, mungkin, enak dimakan dan mudah untuk dicerna. Seorang juru masak terkenal pasti mempunyai alat-alat yang lengkap untuk membuat masakannya. Para pemburu dewasa ini menggunakan teknologi super canggih untuk berburu, penggunaan senjata yang dilengkapi oleh pembidik laser. 
Para nelayan, pemburu di laut, menggunakan peralatan canggih, mulai dari kapalnya yang dilengkapi dengan peralatan radar pendeteksi keberadaan ikan yang berhubungan langsung dengan satelit di luar angkasa. Penggunaan jaring dan alat pancing modern lainnya sampai disediakan bagian pengolah ikan hingga siap dijual apabila kapal merapat di pelabuhan tujuan. Seorang dosen membutuhkan komputer note book untuk menuangkan ide-idenya kepada para mahasiswa dan mempermudah dirinya dalam menjelaskan ide-idenya tersebut. 
Seorang dokter tidak pernah terlepas dari alat terhebatnya yaitu stetoskop. Coba Anda datang memeriksakan diri Anda ke seorang dokter yang tidak memiliki stetoskop, kemudian untuk mendengar detak jantung Anda dokter tersebut menggeser-geser kupingnya di dada Anda, apa yang terjadi? Kalau sesama jenis mungkin bisa diterima, tapi kalau istri Anda yang ke dokter tersebut? Dalam tulisan kebiasaan-kebiasaan orang sukses sebelumnya telah dibahas faktor seperti memiliki impian yang jelas dan detail, memiliki network yang luas dan dibangun secara sengaja, kerja yang konsisten dan persisten. Dalam konteks itu, alat adalah sarana yang mempermudah untuk mencapai tujuan dan impian kita. Memang dari semua kebiasaan orang sukses impian menempati urutan pertama karena merupakan visi dan cetak biru untuk apa yang ingin kita capai. Baru kemudian kita cari untuk menuju dan merealisasikan cetak biru itu, alat dan sarana apa serta kendaraan apa yang tepat dinaiki. 

Pendidikan, kendaraan kunci mencapai sukses
Banyak sekali kendaraan di luar sana yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan kita. Satu alat yang terpenting adalah pendidikan. Pendidikan yang menyebabkan peradaban manusia berkembang, budaya manusia berkembang, pola pikir manusia berkembang. Pendidikan di sini bukan dibatasi hanya dengan pendidikan formal. Banyak orang sukses yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal yang tinggi dan terstruktur. Banyak juga orang yang memiliki pendidikan formal tinggi tidak sukses. Jadi apakah pendidikan formal tidak penting dan bahkan bisa menghambat kesuksesan seseorang? Pertanyaan ini selalu diungkapkan dalam pertemuan dan seminar bahkan dikelas saat seorang guru, dosen menekankan pentingnya pendidikan bagi murid dan mahasiswanya. Kalau mau diteliti dan diurut-urut orang-orang sukses yang tidak memiliki pendidikan formal terstruktur dan sering kali putus sekolah, selalu memiliki impian yang jelas, detail dan kuat. Mereka juga memiliki pendidikan dasar dalam hal membaca, berhitung, berhubungan dengan sesama manusia, pendidikan dasar keagamaan atau pendidikan dasar spiritual. Artinya mereka juga memiliki pendidikan formal sampai batas tertentu. 
Tidak ada manusia di dunia yang tumbuh dan berkembang tanpa melalui pendidikan. Orang-orang sukses tersebut bahkan terus-menerus belajar walau tidak melalui bangku sekolahan, bahkan mereka bisa mengajari orang-orang sekolahan. Mereka bisa menjadi guru dan legenda hidup yang patut kita pelajari kiat-kiat suksesnya. Banyak juga cendekiawan yang mendapatkan gelar-gelar tinggi akademis karena melakukan penelitian terhadap orang-orang sukses yang tidak memiliki pendidikan akademis ini. Di setiap buku suci semua penganut agama selalu terdapat satu, dua atau bahkan lebih ayat yang menekankan pentingnya pendidikan. Bahkan para akademisi sendiri menyarankan bahwa pendidikan untuk sukses sebetulnya dimulai saat kita lepas dari dunia pendidikan formal. Kita duduk dibangku sekolah rata-rata paling lama tidak lebih dari 20 tahun. Sedangkan manusia yang hidup lebih dari 60 tahun, jadi sisa 40 tahun itu saat kita semua mendapatkan pendidikan dari dunia kehidupan di luar sekolah. Pendidikan dari dunia kehidupan ini yang membentuk dan membantu keberhasilan seseorang. 

Lifetime Learning
Sebuah organisasi hebat telah lahir di Indonesia. Organisasi ini membantu orang-orang untuk tetap mendapatkan pendidikan walaupun sudah tidak lagi duduk dibangku sekolah atau bangku kuliah. Para pelaku di organisasi ini percaya walaupun tidak melalui dunia pendidikan formal tapi kita tetap dapat meraih kesuksesan yang luar biasa. Indonesia School of Life [ISOL] adalah suatu organisasi yang percaya untuk memberdayakan manusia Indonesia tidak harus dan tidak selalu melalui jalur pendidikan formal dan akademis. Mereka mempunyai visi anak bangsa untuk Indonesia tahun 2045 ”Bangga menjadi Anak Bangsa Indonesia dengan cara menjadi Kebanggaan bagi Indonesia”. Organisasi mandiri ini memiliki visi sampai tahun 2045, mereka sudah tahu akan ke mana tujuannya, tinggal menciptakan atau menaiki kendaraan yang tepat untuk mewujudkan visi itu di tahun 2045. Coba simak, Bill Gates, bosnya Microsoft yang menurut majalah-majalah bisnis adalah orang terkaya di bumi saat ini. Ada lelucon yang menceritakan bahwa kalau mau sukses besar harus drop out dari Harvard seperti Bill Gates. Michael Dell top eksekutifnya Dell Computer yang menggugah dunia dengan layanan penjualan komputer melalui internet dan juga merupakan orang terkaya di dunia, drop out dari sekolahnya. Tiger Wood jutawan atau bahkan milyader olah raga Golf tidak pernah memiliki gelar akademis yang tinggi, tetapi banyak filosofi dalam bertanding golf-nya yang diikuti dan dipelajari orang banyak dalam meraih sukses. Sudono Salim atau Liem Sioe Liong, apakah pernah duduk dibangku perguruan tinggi mungkin bangku SMA juga tidak pernah dia lewati tetapi berhasil menjadi orang terkaya di Indonesia saat itu. Bahkan saat ini kebanyakan orang kaya Indonesia diselidiki sumber kekayaannya, tetapi dia tidak pernah disentuh dan dicari. 
Bisa jadi Om Liem sedang duduk santai dipinggir pantai atau main golf untuk membicarakan bagaimana mendapat uang lebih banyak lagi. Om Bob Sadino, masih dengan celana jins pendeknya berkeliling kebun atau sedang memberikan seminar pada sekumpulan orang-orang dengan latar belakang akademis tinggi bagaimana menjadi sukses, minimal seperti dirinya yang tidak memiliki gelar akademis tinggi. AA Gymnastiar, seorang da’i, seorang ustad, yang mempunyai pendidikan bukan dari bidang keagamaan, melainkan dari universitas tidak begitu terkenal di Bandung, sekarang diminta memberikan ceramah di seantero Nusantara. 
Dia berhasil menciptakan sebuah kelompok mandiri di lingkungan pesantrennya yang hidup dari usaha-usaha mereka sendiri. Saat ini banyak lembaga atau individu berguru ke pesantrennya untuk mempelajari bagaimana AA Gym, meletakkan dasar perekonomian di lingkungannya. Manajemen Qolbu adalah salah satu ajaran pokoknya yang sangat sesuai dengan wawasan kita saat ini. Dari uraian di atas, pendidikan formal, sampai pada tahap tertentu penting diperoleh. Namun, yang lebih penting adalah proses pembelajaran yang berkelanjutan yang relevan dengan masalah yang dihadapi. Selama ini pendidikan formal khususnya pendidikan tinggi lebih mengacu pada belajar tentang sesuatu. Ada beda antara belajar tentang sesuatu dan belajar sesuatu. Belajar tentang berenang berbeda (jenis-jenis gaya renang, sejarah renang, dan lain-lain) dengan belajar berenang (langsung dikolam renang). Belajar tentang bisnis berbeda dengan belajar berbisnis. Belajar tentang sukses berbeda dengan belajar sukses. Jadi tak heran bila banyak orang berpendidikan tinggi tapi tidak sukses di bisnis atau bidang lain, karena mereka ‘belajar tentang’ bukan ‘belajar melakukan.’ Sementara itu, orang-orang yang langsung terjun ke dunia bisnis sejak dini (seperti Om Liem, Bill Gates, dll), telah belajar berbisnis sungguhan. Pesan dari artikel ini: Mau sukses? Kuncinya gunakan alat yang disebut belajar. Tapi bukan belajar sembarang belajar. Perlu ada kombinasi belajar tentang dan belajar melakukan. Kalau kedua tahap ini dilakukan, sebenarnya masih ada satu langkah lagi, yaitu belajar menjadi. Tentang hal ini akan dibahas dalam tulisan ManDiri di masa mendatang. 


TELAAH KURIKULUM

1.      Termasuk bentuk kurikulum apa kurikulum yang dipakai sekarang? Jelaskan! Serta berikan alasannya!
Jawab:
Kurikulum yang sedang dipakai sekarang dikategorikan sebagai pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan sebuah perangkat pembelajaran yang disusun dan dilaksanakan oleh setiap tingkat satuan pen-didikan. Proses penyusunan kurikulum ini merupakan sebuah keistimewaan tersendiri jika dibandingkan dengan pengalaman kurikulum - kurikulum ter-dahulu. Penulis mengatakan bahwa kurikulum ini istimewa sebab dalam hal ini guru menyusun kurikulum dan melaksanakannya dalam kegiatan pembelajaran-nya. Dengan demikian setidaknya proses pembelajaran yang direncanakan merupakan hasil kreasi dan kerja guru sejak perencanaan awal, penentuan materi pemelajaran, tata urutannya, sistem penerapannya, sistem penilaiannya, tindak lanjut dari proses pembelajaran, dan langkah-langkah penanganan jika anak didik mengalami kesulitan pada akhir masa penerapan materi pemelajaran. Inilah keistimewaan yang terkandung di dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang sekarang ini hendak diterapkan, yaitu mulai tahun pelajaran 2007/2008. Kita dapat menentukan materi yang kita berikan kepada anak didik dan mensinergiskan dengan kebutuhan masyarakat.
KTSP memang merupakan sebuah rancangan program kegiatan pembelajaran yang lebih diarahkan pada penguasaan kompetensi atau kemampuan anak didik terhadap aspek-aspek tertentu berkaitan dengan kondisi yang diharapkan oleh masyarakat secara umum. Dengan KTSP ini, maka setidaknya seorang guru mempunyai keleluasan untuk memberikan materi pemelajaran dengan kom-petensi tinggi dan sesuai dengan hal-hal yang dibutuhkan oleh masyarakat di sekitar sekolah atau lingkungan hidup anak didik. Kita tidak perlu bermuluk-muluk memberikan sesuatu yang ternyata tidak mungkin diterapkan dalam kehidupan nyata. Oleh karena itulah, maka di dalam proses penyusunan kurikulum ini, tingkat kompetensi yang hendak dicapai dari hasil proses pembelajaran diarahkan untuk pencapaian pada tingkatan tertentu, misalnya secara lokal, regional, nasional, atau bahkan secara internasional. Guru sebagai penyusun isi kurikulum mempunyai kewenangan atau otonomi yang luas untuk menentukan seberapa tingkat kompetensi yang harus dicapai oleh anak didik agar dikatakan telah berhasil menyelesaikan proses pembelajaran dengan meng-gunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan ini.
KTSP ini memang jika kita telaah lebih mendalam merupakan upaya untuk mengembalikan kewenangan atau otonomi guru untuk merencanakan proses pembelajaran yang hendak dilaksanakannya. Guru mempunyai kesempatan untuk mengaktualisasikan segala potensi dirinya sehingga konsep profesionali-sasi profesi benar-benar dapat terwujudkan dalam kondisi seperti ini. Bagaimana –pun seorang guru memang sudah seharusnya mempunyai kesempatan untuk menunjukkan segala potensi yang ada di dalam dirinya, termasuk dalam hal ini adalah kemampuan untuk menyusun perencanaan pembelajaran.
Selama ini, diakui atau tidak kita para guru telah dibuat mandul dengan patron kurikulum yang sudah ada secara nasional. Selama ini kita hanya copy paste saja semua aspek yang harus ada di dalam kurikulum. Kita adalah kaum replikan yang dengan begitu saja menerima segala sesuatu yang sudah jadi dan selanjut-nya dijadikan sebagai dasar pekerjaan. tentunya kita dapat membayangkan apa yang bakal terjadi jika kondisi seperti ini terus diterapkan, sementara para guru sama sekali tidak ikut dalam proses penyusunan materi kurikulum dan lagi isi kurikuum tersebut adalah bersifat dan berskala nasional sehingga seringkali berbeda dengan yang dibutuhkan di masyarakat sekitar sekolah atau lingkungan di sekitar sekolah. Hal ini jelas-jelas menjadi guru hanya sebagai user dari sebuah produk dan harus menerapkan produk tersebut di dalam kegiatan hidupnya, walaupun tanpa keterlibatannya pada saat merencanakan dan menyusunnya, sehingga dengan demikian para guru harus memelajari kurikulum tersebut terlebih dahulu dan setelah memahami konsep-konsepnya, maka baru dapat menerapkan dalam ekgiatan pembelajaran yang nyata. Semenytara karena pada awalnya tidak ikut merencanakan dan menyusun, maka yang terjadi adalah seringnya terjadi kesalahan persepsi terhadap aspek yang ada di dalam kuri-kulum. Kondisi ini menjadikan para guru mandul sebab tidak kreatif.
Untuk dapat mengikuti dan selanjutnya menyusun serta melaksanakan kuri-kulum jenis ini, memang diperlukan guru-guru yang penuh kreativitas dan inovasi yang tinggi. Disamping itu, kita juga membutuhkan guru-guru yang benar-benar mengabdi bagi kelangsungan pelaksanaan proses pendidikan. Hal ini sangat penting sebab, jika memang benar-benar menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan, maka guru harus benar-benar proaktif dalam mempersiapkan segala kelengkapan pembelajarannya, dari awal hingga akhir-nya.
Tentu saja dalam hal ini kita masih tetap membutuhkan out line atas aspek-aspek pemelajaran yang perlu diberikan kepada anak didik yang disinergiskan dengan berbagai kondisi yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Langkah ini sangat penting agar tujuan perencanaan dan penyusunan kurikulum ter-capai. Out line inilah yang dijadikan sebagai dasar perencanaan dan penyusunan materi kurikulum, tentu saja dalam hal ini out line harus disesuaikan terlebih dulu dengan kondisi lingkungan. Jika ada out line nasional atau copy paste yang tidak sesuai dengan kondisi, maka perlu disesuaikan sehingga benar-benar men-jamin keterlaksanaan kurikulumnya.
2.      Salah satu dasar pengembangan kurikulum adalah berasas Filosofis. Jelaskan serta berikan contohnya!
Jawab:
Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan  Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

3.      Dalam KBK terdapat salah satu sistem pembelajaran menggunakan modul.
a.      Uraikan yang dimaksud belajar dengan modul tersebut!
b.      Apa kelebihan dan kekurangan belajar dengan modul
Jawab:
a)      Sistem pembelajaran menggunakan modul dalam KBK terdapat peran serta modul sebagai paket pembelajaran mandiri sebagai suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah yang digunakan oleh peserta didik disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru untuk mencapai tujuan belajar. Dengan sistem pembelajaran modul ini, peserta didik mendapat kesempatan lebih banyak untuk belajar mandiri, membaca uraian, dan petunjuk di dalam lembaran kegiatan, menjawab pertanyaan serta melaksanakan tugas-tugas yang harus diselesaikan dalam setiap tugas tersebut. Sehingga peserta didik dalam batas-batas tertentu dapat maju seirama dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing. Peranan guru dalam penyajian dengan modul adalah sebagai sumber tambahan dan pembimbing, atau dapat dikatakan pula tugas seorang guru sebagai fasilitator.
b)      Keunggulan sistem belajar dengan modul adalah pembelajaran berfokus pada kemampuan individual peserta didik, karena pada hakikatnya mereka memiliki kemampuan untuk bekerja sendiri dan lebih bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya; adanya kontrol terhadap hasil belajar melalui penggunaan peserta didik kompetensi dalam setiap modul yang harus dicapai oleh peserta didik; dan relefansi kurikulum ditunjukan dengan adanya tujuan dan cara pencapaiannya, sehingga peserta didik dapat mengetahui keterkaitan antara pembelajaran dan hasil yang akan diperolehnya. Kekurangan sistem belajar dengan modul seperti penyusunan modul yang baik membutuhkan keahlian tertentu memuat tujuan dan alat ukur berarti, tetapi pengalaman belajar yang termuat di dalamnya tidak tertulis dengan baik atau tidak lengkap; sulit menentukan proses penjadwalan dan kelulusan, serta membutuhkan manajemen pendidikan yang sangat berbeda dari pembelajaran konvensional, karena setiap peserta didik menyelesaikan modul dalam waktu yang berbeda-beda tergantung pada kecepatan dan kemampuan masing-masing; dan dukungan pmbelajaran berupa sumber belajar, cukup mahal, setiap murid harus mencarinya sendiri.

4.      Apa yang dimaksud strategi belajar tuntas dalam KBK?
Jawab:
Strategi belajar tuntas merupakan strategi pembelajaran yang dapat dilaksanakan di dalam kelas, dengan asumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik akan mampu belajar dengan baik dan memperoleh hasil belajar secara maksimal terhadap seluruh bahan yang dipelajari.

5.      Bagaimana prinsip telaah kurikulum menurut Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 22 tahun 2006?
Jawab:
Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9 tahun. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya melalui olahhati, olahpikir, olahrasa dan olahraga agar memiliki daya  saing dalam menghadapi tantangan global. Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. Peningkatan efisiensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Peserta didik Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan peserta didik nasional pendidikan, yaitu: peserta didik isi, peserta didik proses, peserta didik kompetensi lulusan, peserta didik pendidik dan tenaga kependidikan, peserta didik sarana dan prasarana, peserta didik pengelolaan, peserta didik pembiayaan, dan peserta didik penilaian pendidikan.




Lima Kelemahan Guru dalam Mengajar
oleh Hasanudin, S.Pd.

Tulisan ini bukan merupakan kesimpulan atas kinerja guru secara umum, tetapi hanyalah merupakan temuan penulis selama melaksanakan supervisi kunjungan kelas pada beberapa sekolah yang menjadi binaan penulis ditambah dengan pengamatan penulis pada saat mengikuti kegiatan lesson study MGMP Bahasa Inggris beberapa waktu yang lalu. Sengaja diberi judul demikian karena yang akan dipaparkan adalah kelemahan-kelemahan yang nyata ditemukan penulis. Hal ini dimaksudkan agar bisa menjadi input bagi para guru untuk memperbaiki kegiatan pembelajarannya. 
Dari pengamatan penulis terhadap kegiatan pembelajaran di kelas dapat dikemukakan beberapa kelemahan antara lain : 
1.      Guru tidak menggunakan RPP sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran. RPP adalah skenario pembelajaran yang dibuat oleh guru sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai. Dalam dokumen tersebut tidak hanya berisi kompetensi apa yang akan dicapai tetapi juga memuat secara rinci berapa lama waktu tatap muka dilakukan. Bahkan dirinci pula berapa menit kegiatan awal untuk melaksanakan kegiatan rutin, apersepsi dan penjajagan untuk mengenal bekal awal siswa. Waktu yang digunakan untuk kegiatan inti, dan rincian waktu untuk kegiatan akhir. Dalam RPP juga tercantum secara jelas alat bantu mengajar apa yang diperlukan dan sumber belajar apa yang digunakan. Demikian pula di dalam RPP juga telah dicantumkan rencana kegiatan penilaian yang merupakan upaya untuk mendapatkan umpan balik keberhasilan guru dalam mengajar.Kenyataannya RPP tidak difungsikan, bahkan ada guru yang mengajar tanpa bertpedoman pada RPP. Hal ini menyebabkan kegiatan pembelajaran tidak terarah.
2.      Guru tidak mempersiapkan alat bantu mengajar. Alat bantu mengajar sangat diperlukan untuk membantu guru dalam menjelaskan materi pelajaran, sehingga siswa mengetahui secara nyata melalui benda-benda yang nyata. Dengan alat bantu ini pengetahuan tidak hanya berupa verbal, dan bisa mengatasi kesenjangan komunikasi guru dengan siswa. Kenyataannya guru tidak membawa alat bantu mengajar sehingga yang dilakukan hanyalah ceramah-dan ceramah saja.
3.      Guru kurang memperhatikan kemampuan awal siswa. Pengetahuan ten tang kemampuan awal siswa diperlukan oleh guru untuk menetapkan strategi mengajar, bahkan untuk mengajukan pertanyaanpun diperlukan pemahaman tentang kemampuan awal siswa. Dengan memahami kemampuan awal siswa ini guru dapat membantu siswa memperlancar proses pe,mbelajaran yang dilkukan dan memperkecil peluang kesulitan yang dihadapi siswa. Adakalanya satu materi tertentu memerlukan prasarat pengetahuan sebelumnya. Jika pengetahuan prasyarat ini belum dikuasi dan guru sudah melanjutkan pada materi berikutnya bisa dipastikan bahwa siswa akan kesultan mengikuti pelajaran. Hal ini bisa dideteksi melalui perilaku siswa. Siswa yang tidak dapat mengikuti materi yangs edang dibahas oleh guru cenderung berperilaku "menyimpang" seperti: melamun, menulis atau menggambar yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran, berbicara sendiri atau kegiatan-kegiatan lain yang tidak terkait dengan isi pembelajaran.
4.      Penggunaan papan tulis yang kurang tepat. Pada umumnya guru langsung memulai pelajaran tanpa menuliskan Pokok persoalan yang akan dibahas dan tujuan pembelajarannya. Penulisan pokok bahasan dan tujuan pembelajaran ini bergna sebagai kontrol bagi guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar agar tidak keluar dari jalur. Kecenderungan lainnya adalah penggunaan papan tulis yang kaacau. Siswa tidak tahu apa sebenarnya yang dibahas, dan untuk apa hal itu dibahas. Guru terlalu sibuk menulis dan membuat ilustrasi di papan tulis yang kadang-kadang sulit ditangkap siswa dan tidak disimpulkan.
5.      Tidak melaksanakan evaluasi. Dengan alasan kekurangan waktu seringkali guru tidak melaksanakan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Evaluasi ini bertguna bagi guru untuk mengetahui seberapa besar keefektifan pembelajaran yang dilakukannya. Dengan melakukan evaluasi pada setiap akhir kegiatan /bahasan akan bisa mendeteksi siswa mana yang masih kesulitas dan pada bagian apa siswa merasa sulit. Hal ini akan sangat berguna bagi guru dalam membantu siswa.
Apabila 5 macam kelemahan guru ini dapat diperbaiki, maka peoses pembelajaran akan menjadi lebih bermutu dan muaranya nanti pada hasil belajar yang lebih baik. Perubahan pada kelima kelemahan tersebut tidak memerlukan biaya. Yang diperlukan hanyalah kesadaran diri untuk memberikan yang terbaik kepada siswa. Kepala sekolah dapat berperan dalam perbaikan proses pembelajaran ini dengan cara lebih sering melaksanakan supervisi kunjungan kelas.

Belajar dan Hasil Belajar

A. Tinjauan Tentang Belajar dan Hasil Belajar
1. Pengertian Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik. Oleh karena itu, setiap guru perlu memahami sebaik-baiknya tentang proses belajar peserta didik agar ia dapat memberikan bimbingan dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi.
Pengertian belajar sudah banyak dikemukakan oleh para pakar pendidikan, mereka mengemukakan definisi belajar menurut pendapat mereka masing-masing. Slameto (2003:2) mengemukakan bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Moh Uzeri Usman (1996:5) belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antarindividu dengan lingkungannya. Kriteria keberhasilan dalam belajar diantaranya ditandai dengan terjadinya perubahan tingkah laku pada diri individu yang belajar. Hal ini ditegaskan oleh Hilgard dan Brower (dalam Oemar Hamalik, 1992:45) mendefinisikan belajar sebagai perubahan dalam perbuatan melalui aktivitas, praktek dan pengalaman. Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang (1989:27) mengemukakan bahwa Belajar adalah pemodifikasian tingkah laku melalui pengalaman dan latihan.
Selain pendapat para pakar di atas, Hamalik (2003:16) mengemukakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Jadi belajar bukan suatu tujuan tetapi merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan. Siswa akan mendapat pengalaman dengan menempuh langkah-langkah atau prosedur yang disebut belajar. Penulis juga mengutip pendapat alam situs internet http://artikel.us/art05-65.html, bahwa belajar adalah upaya untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap-sikap. 
Berdasarkan beberapa definisi tentang belajar diatas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan atau kemahiran berdasarkan alat indera dan pengalamannya. Oleh sebab itu apabila setelah belajar peserta didik tidak ada perubahan dalam tingkah laku yang positif dalam arti tidak memiliki kecakapan baru serta wawasan pengetahuannya tidak bertambah maka dikatakan bahwa belajarnya belum sempurna.




2. Prinsip-prinsip Belajar
Menurut Slameto (2003: 27-28) prinsip-prinsip belajar meliputi:
a) Berdasarkan prasyarat yang diperlukan untuk belajar 
1) dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional
2) belajar dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional
b) Sesuai hakikat belajar
1) belajar itu proses kontinyu, maka harus tahap demi tahap menurut perkembangannya
2) belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery
3) belajar adalah proses kontinguitas (hubungan antara pengertian yang satudengan pengertian yang lain) sehingga mendapatkan pengertian yang diharapkan. Stimulus yang diberikan menimbulkan respon yang diharapkan
c) Sesuai materi yang harus dipelajari
1) belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur, penyajian yang sederhana, sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya
2) belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksioanl yang harus dicapainya
d) Syarat keberhasilan belajar
1) belajar memerlukan sarana yang cukup, sehingga siswa dapat belajar dengan tenang
2) repetisi dalam proses belajar perlu ulangan berkali-kali agar pengertian/ ketrampilan/sikap itu mendalam pada siswa

3. Hasil Belajar
Apa sebenarnya tujuan kita terhadap apa yang kita lakukan saat memberikan materi terhadap peserta didik? Tujuan utama seorang guru terhadap peserta belajarnya adalah mendapatkan dan meraih hasil yang sempurna. Hasil tersebut ditunjukkan dengan perubahan, baik dari sikap, pandangan, juga nilai dalam bentuk angka-angka. Berbagai pakar meneliti apa sebenarnya hasil belajar itu. Hasil penelitiannya Sudjana (1989:22) menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuankemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar merupakan hal yang penting yang akan dijadikan sebagai tolak ukur sejauh mana keberhasilan seorang siswa dalam belajar. Dari hasil belajar, guru dapat menilai apakah sistem pembelajaran yang diberikan berhasil atau tidak, untuk selanjutnya bisa diterapkan atau tidak dalam proses pembelajaran. Menurut Sudjana (1989: 22) hasil belajar dibagi dalam tiga ranah yaitu:
a. Ranah Kognitif
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri atas enam aspek yaitu pengetahuan/ ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
b. Ranah Afektif
Berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.
c. Ranah Psikomotorik
Berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotorik, yaitu gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan/ ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.

Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang telah dicapai siswa baik kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik setelah mengalami proses belajar. Hasil belajar kognitif berasal dari nilai ulangan harian atau nilai ulangan semester dari siswa. Pada kurikulum 1994 hanya hasil belajar kognitif yang dijadikan tolak ukur keberhasilan siswa dalam belajar. Tetapi untuk kurikulum 2004 sekarang, hasil belajar siswa meliputi hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil belajar psikomotorik siswa berkaitan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak siswa untuk pelajaran, hasil belajar psikomotorik siswa diperoleh dari hasil pengamatan terhadap keterampilan siswa ketika melakukan percobaan atau eksperimen. Sedangkan untuk hasil belajar afektif siswa, diperoleh dari hasil angket.

DAFTAR PUSTAKA

Adrian. 2004. http://artikel.us/art05-65.html. Metode Mengajar Berdasarkan Tipologi Belajar Siswa. 
Sudjana, Nana. 1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:Rineka Cipta.
Oemar Hamalik. 1992. Psykologi Belajar dan Mengajar. Bandung : Sinar Baru.
Muh Uzer Usman. 1996, Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Guru yang Baik dan Profesional


1. Guru Profesional
Apakah anda seorang guru? Bagaimanakah sikap anda menjadi seorang guru? Jawaban yang sangat simpel dan mudah diucapkan yaitu, "Ya". Mudah bukan menjawabnya?. Namun dari segi apa kita menjawab pertanyaan itu. Jika kita hanya menjawab dengan alasan karena jabatan kita, ya memang sangat mudah, namun apabila kita jawab dari hierarki maknanya tentu bukan hal yang mudah. 
a. Guru
Guru merupakan sesosok manusia yang memang terpilih dan dipilih untuk memberikan dan mengeluarkan kemampuannya dalam hal mengubah sosok manusia laiain yang biasanya terjadi di beberapa lingkungan, seperti lingkungan formal, informal, dan nonformal. Lingkungan formal merupakan lingkungan yang sengaja dijadikan dan merupakan tempat resmi untuk meniru gurunya. Lingkungan ini seperti sekolah. Informal merupakan lingkungan yang terjadi di mana seseorang itu tumbuh dan tinggal, yaitu seperti di keluarga. Serta lingkungan nonformal merupakan lingkungan yang terjadi selain di sekolah dan di rumah yaitu di lingkungan masyarakat.
b. Profesional 
Selanjutnya, apa arti profesional? Profesional (dari bahasa Inggris) berarti ahli, pakar, mumpuni dalam bidang yang digeluti. Menjadi profesional, berarti menjadi ahli dalam bidangnya. Dan seorang ahli, tentunya berkualitas dalam melaksanakan pekerjaannya. Akan tetapi tidak semua Ahli dapat menjadi berkualitas. Karena menjadi berkualitas bukan hanya persoalan ahli, tetapi juga menyangkut persoalan integritas dan personaliti. Dalam perspektif pengembangan sumber daya manusia, menjadi profesional adalah satu kesatuan antara konsep personaliti dan integritas yang dipadugadankan dengan skill atau keahliannya.

Dari pandangan-pandangan di atas, dapat kita simpulkan sebenarnya apa yang menjadi dasar seorang guru itu. Tentunya menjadi sesosok orang yang bekerja dan mampu menunjukkan dan memberikan sesuatu yang dimilikinnya (ilmu) kepada orang lain (siswa) yang dalam kinerjanya mengintegrasikan antara kemampuannya dengan sikapnya. Mengapa demikian? karena seorang guru itu merupakan seseorang yang bekerja yang mengharapkan nilai upah setelah selesai tugasnya. Tidaklah lazim di zaman sekarang ini jika ada guru yang masih belum mendapatkan upah hasil kerjanya, namun kebanyakan dari seorang guru itu hanya ingin mendapatkan upah saja tetapi lalai dalam melaksanakan atau menjalankan tugas tersebut. Hal ini lah yang harus dihindarkan dari sikap seorang guru yaitu dengan menanamkannya sifat dan sikap profesional.

2. Memiliki skill/keahlian dalam mendidik atau mengajar
Menjadi guru mungkin semua orang bisa. Tetapi menjadi guru yang memiliki keahlian dalam mendidikan atau mengajar perlu pendidikan, pelatihan dan jam terbang yang memadai. Dalam kontek diatas, untuk menjadi guru seperti yang dimaksud standar minimal yang harus dimiliki adalah:
  • Memiliki kemampuan intelektual yang memadai
  • Kemampuan memahami visi dan misi pendidikan
  • Keahlian mentrasfer ilmu pengetahuan atau  metodelogi pembelajaran
  • Memahami konsep perkembangan anak/psikologi perkembangan
  • Kemampuan mengorganisir dan problem solving
  • Kreatif dan memiliki seni dalam mendidik
3. Personaliti Guru
Profesi guru sangat identik dengan peran mendidik seperti membimbing, membina, mengasuh ataupun mengajar. Ibarat sebuah contoh lukisan yang akan ditiru oleh anak didiknya. Baik buruk hasil lukisan tersebut tergantung dari contonya. Guru (digugu dan ditiru)  otomatis menjadi teladan. Melihat peran tersebut, sudah menjadi kemutlakan bahwa guru harus memiliki integritas dan personaliti yang baik dan benar. Hal ini sangat mendasar, karena tugas guru bukan hanya mengajar (transfer knowledge)  tetapi juga menanamkan nilai - nilai dasar dari bangun karakter atau akhlak anak.
4. Memposisikan profesi guru sebagai  The High Class Profesi
Di negeri ini sudah menjadi realitas umum  guru bukan menjadi profesi yang berkelas baik secara sosial maupun ekonomi. Hal yang biasa, apabila menjadi Teller di sebuah Bank, lebih terlihat high class dibandingkan guru. jika ingin menposisikan profesi guru setara dengan profesi lainnya,  mulai di blow up bahwa profesi guru strata atau derajat yang tinggi dan dihormati dalam masyarakat. Karena mengingat begitu fundamental peran guru bagi proses perubahan dan perbaikan di masyarakat.

Mungkin kita perlu berguru dari sebuah negara yang pernah porak poranda akibat perang. Namun kini telah menjelma menjadi negara maju yang memiliki tingkat kemajuan ekonomi dan teknologi yang sangat tinggi. Jepang merupakan contoh bijak untuk kita tiru. Setelah Jepang kalah dalam perang dunia kedua,  dengan dibom atom dua kota besarnya, Hirohima dan Nagasaki, Jepang menghadapi masa krisis dan kritis kehidupan berbangsa dan bernegara yang sangat parah. Namun ditengah kehancuran akibat perang, ditengah ribuan orang tewas dan porandanya infrastruktur negaranya, Jepang berpikir cerdas untuk memulai dan keluar dari kehancuran perang. Jepang hanya butuh satu keyakinan, untuk bangkit. Berapa guru yang masih hidup...?

Hasilnya setelah berpuluh tahun berikut, semua orang terkesima dengan kemajuan yang dicapai Jepang. Dan tidak bisa dipungkiri, semua perubahan dan kemajuan yang dicapai, ada dibalik sosok Guru yang begitu dihormati dinegeri tersebut.

Kini, lihatlah Indonesia, negara yang sangat kurang respek dengan posisi guru. Negara yang kurang peduli dengan nasib guru. Kini lihatlah hasilnya. Apabila mengacu pada 
Human Index Development (HDI), Indonesia menjadi negara dengan kualias SDM yang memprihatinkan. Berdasarkan HDI tahun 2007,  Indonesia berada diperingkat 107 dunia dari 177 negara. Bila dibandingkan dengan negara sekitar, tingkat HDI Indonesia jauh tertinggal.Contoh Malaysia berada diperingkat 63,  Thailand 78, dan Singapura 25. Indonesia hanya lebih baik dari Papua Nugini dan Timor Leste yang berada diposisi 145 dan 150.

HDI merupakan potret tahunan untuk melihat perkembangan manusia di suatu negara. HDI adalah kumpulan penilaian dari 3 kategori, yakni kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Menjadi jelaslah bahwa, sudah saatnya Indonesia menjadikan sektor pendidikan sebagai prioritas utama dalam program pembangunan. Apabilah hal ini tidak dibenahi, bukan hal mustahil daya saing dan kualitas manusia Indonesia akan lebih rendah dari negara yang baru saja merdeka seperti Vietnam atau Timor Leste.
5. Program Profesionalisme Guru

  • Pola rekruitmen yang berstandar dan selektif
  • Pelatihan yang terpadu, berjenjang dan berkesinambungan (long life eduction)
  • Penyetaraan pendidikan dan membuat standarisasi mimimum pendidikan
  • Pengembangan diri dan motivasi riset
  • Pengayaan kreatifitas untuk menjadi guru karya (Guru yang bisa menjadi guru)
6. Peran Manajeman Sekolah

  • Fasilitator program Pelatihan dan Pengembangan profesi
  • Menciptakan jenjang karir yang fair dan terbuka
  • Membangun manajemen dan sistem ketenagaan yang baku
  • Membangun sistem kesejahteraan guru berbasis prestasi




Subscribe Via Email

catatan "Kang Hasan"

↑ Grab this Headline Animator

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

About Me

Foto Saya
Hasanudin
Ketidaksempurnaan adalah hakiki insan Tuhan. Menjadikan lebih sempurna adalah kewajiban Insan terhadap Tuhan, dengan iman dan takwa kepada-Nya. Sebagai seorang insan kita wajib menghargai ketidaksempurnaan sesama.
Lihat profil lengkapku

Followers

Sponsored by

Ekstra Link

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net Add to Google Reader or Homepage Text Back Links Exchanges Blog Tutorial Wordpress Blogger Blogspot Cara Membuat Blog Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free! Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net
Back To Top